Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

Jakarta – Sejumlah puluhan orang yang tergabung dalam Aliansi Pemilih Pintar (APP) DKI Jakarta melakukan aksi seruan kampanye damai di Bundaran Patung Kuda Jl. MH. Thamrin, Selasa (23/08/2016). Isu yang dibawah APP menolak politik yang membawa isu SARA (Suku Agama dan Ras) dalam Pemilukada DKI 2017 mendatang.

Syafrudin Budiman SIP, Juru Bicara APP saat ditemui di acara aksi mengatakan, Pemilukada DKI Jakarta diharapakan berjalan damai dan jauh dari konflik yg mengancam.

“Hari ini jelang Pemilukada DKI sudah banyak perang wacana yg berbau SARA. Kalau tidak diredam sekarang bisa menjadi konflik horisontal antar masyarakat,” katanya.

Menurutnya, APP memberikan penyadaran agar hal-hal yg berbau politik SARA harus dihindari. Karena kunci dari sukses-tidaknya pelaksanaan Pemilukada sangat tergantung kepada para peserta, pemilih dan pelaksananya. Dimana Pemilukada yang damai menjadi agenda utama yang harus dijaga dalam kegiatan ini.

Berdirinya Aliansi Pemilih Pintar (APP) DKI Jakarta juga tidak lepas dari sebuah harapan Pemilukada berlangsung aman, lancar, damai, bermutu, dan bermartabat. Selain itu diharapkan masyarakat harus mengetahui latar belakang calon kepala daerah yang akan dipilih. Penting mempunyai pemimpin yang memiliki kemampuan membawa kesejahteraan, tidak tercela, dan tidak melanggar nilai moral.

“Pemimpin DKI Jakarta harus memiliki visi-misi untuk membagun kemajuan yang jelas. Selain itu sebagai figur yang bisa mengayomi seluruh elemen masyarakat. Sebab Gubernur kedepan harus bisa menjadi pemimpin untuk semua kalangan masyarakat,” ujarnya.

APP menilai untuk mewujudkan Pemilukada yang damai, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai lembaga berwenang pelaksana Pemilukada, harus bisa menjalankannya dengan damai atau bebas dari permasalahan. Karena itu, penting bagi anggota KPU dan bawaslu untuk menjalankan perannya secara baik dan tidak memihak.

“Apabila KPU dan bawaslu telah memainkan perannya dengan benar, maka potensi masalah yang muncul dari tidak profesionalnya KPU akan bisa dihindari. Sehingga kemungkinan munculnya konflik pun akan dapat diminimalkan,” tambah mantan Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Mahasiswa (IMM) periode 2006-2008 ini.

Selain itu katanya, para calon kepala daerah dan tim suksesnya memiliki peran yang sangat sentral dalam menentukan pilkada berjalan damai atau tidak. Selama ini konflik muncul dari setiap pelaksanaan Pemilukada akibat calon kepala daerah dan tim suksesnya tidak mau menerima kekalahan.

“Sangat penting bagi calon kepala daerah, termasuk tim suksesnya, untuk berlapang dada saat mengetahui pihaknya kalah. Mereka harus benar-benar mewujudkan sikap siap kalah tersebut bukan sekadar penghias bibir,” tegasnya.

Syafrudin menambahkan, bahwa sering kali kericuhan yang muncul dalam pilkada karena para calon kepala daerah yang kalah dan tim suksesnya menghasut para pemilihnya untuk memprotes hasil Pemilukada. Hal ini tidak boleh terjadi dalam Pemilukada DKI Jakarta kali ini.

“Penggunaan isu SARA merupakan bagian dari politik pecah belah. Pemilukada DKI Jakarta 2017 harus dimanfaatkan penuh untuk kampanye yang diisi oleh sosialisasi visi, misi, dan program, demi mencerdaskan pemilih nantinya,” imbuhnya.

Oleh karena itu kata Syafrudin, APP menyerukan agar berbagai komunitas di Jakarta saat tahapan Pemilukada DKI 2017 berjalan bisa mendukung Pemiluka damai, Pemilukada tanpa politik uang, Pemilukada tanpa kekerasan, tanpa saling menjatuhkan dan tanpa politisasi isu SARA.

“Karena itu, aksi kita hari ini membawa huruf besar bertuliskan STOP SARA, sebagai simbol menolak Politik SARA,” terang Eksponen Angkatan Muda Muhammadiyah ini. (*)