Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MADURA EXPOSE–Populernya hastag gerakan #2019GantiPresiden bukanlah karena pemberitaan yang masif dari media mainstream melainkan karena peran media sosial.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Asnil Bambani menegaskan, jika tidak ada media mainstream seperti sekarang ini, maka hastag #2019GantiPresiden tidak akan sepopuler sekarang ini.

“Kalau tidak ada media sosial, hastag itu akan seramai seperti? Tidak kan. Bahwasanya hastag itu populer bukan karena media mainstream,” tegasnya dalam diskusi bertajuk “Menakar Peran Media, Antara #2019GantiPresiden Vs Persatuan Bangsa” di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (27/8).

Ditekankannya, dari sisi kebebasan berekspresi, hastag #2019GantiPresiden ataupun hastag #2019TetapJokowi sama-sama tidak melanggar UU 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum. 

Namun, jika ada media yang memberitakan tagar tersebut tidak dengan proporsional, maka masyarakat atau pihak yang merasa keberatan bisa melaporkannya ke Dewan Pers.

“Jika media itu terdaftar di Dewan Pers, maka laporkan saja ke Dewan Pers. Pers itu tidak boleh menjadi corong salah satu pihak. Misalkan media itu memberitakan #2019GantiPresiden mulu, tidak memasukkan kubu sebelah, #2019TetapJokowi misalkan, laporkan segera,” imbaunya.

Nah, bagi media sosial atau media yang tidak resmi selalu memberitakan tentang ujaran kebencian terhadap kelompok tertentu, maka Asnil menghimbau masyarakat atau pihak yang merasa dirugikan untuk melaporkannya ke pihak berwenang.

“Jika merasa dilecehkan, silahkan saja dilaporkan ke kepolisian. Atau melalui proses report yang ada di media sosial itu. Jangan melakukan kontra secara fisik. Karena itu akan melahirkan konflik baru,” demikian Asnil. 

[rus/rml]

HotNews:  Mengharapkan Mukjizat di Mahkamah Konstitusi