Ilusrtasi Masjid Nabawi, Kota Madina (nativepakistan.com)
Pasang Iklan Tanpa Batas Hub.081332778300

MaduraExpose.com- Bagi masyarakat Indonesia, sebutan Aceh sebagai serambi Mekah sudah pasti tidak asing lagi. Tetapi Madura sebagai Madinah-nya Indonesia, mungkin bagi kebanyakan orang masih menganggapnya sedikit asing, termasuk bagi orang Madura, Jawa Timur.

Berikut Redaksi hadirkan “pandangan” Dr. M. Amien Rais yang dipublikasi Republika dan beritanya diabadikan salah satu Nitizen dalam blognya library.ohiou.edu. 

M. AMIEN RAIS: MADURA ADALAH MADINAH-NYA INDONESIA

MALANG — Sikap kritis ulama terhadap industrialisasi Madura adalah

wajar. Sikap tersebut merupakan sesuatu yang konsepsional berdasar
nilai-nilai agama. Ini karena secara objektif, kehadiran
industrialisasi membawa dampak ganda: positif dan negatif.

“Teoritis industrialisasi cenderung membawa pada arus materialisme dan
semangat individual. Sedang berdasar banyak fakta sejarah,
industrialisasi di suatu daerah, kerap menimbulkan disharmoni sosial
dengan penduduk asal,” ujar Dr. M. Amien Rais saat menyampaikan pidato
pengantarnya dalam Seminar Regional Kebudayaan Jawa Timur dalam rangka
Festival Istiqlal II ’85, di Kampus III Unmuh Malang, Minggu (10/9/1995).

Seminar Regional Kebudayaan Jawa Timur ini mengangkat topik Dinamika
Kultural Masyarakat Madura, Dulu, Kini dan Mendatang. Tampil sebagai
nara sumber antara lain, K.H. Tijani Jauhari, M.A., (Pimpinan Ponpes
Al-Amien Sumenep), Dr. Khairil Anwar, MSc (Direktur, PPSK Yogyakarta),
Drs. Latief Wiyata, M.A. (Peneliti Pusat Studi Madura Unej Jember),
Drs. Latif Bustami (dosen IKIP Malang), Dr. Hazim Amir (budayawan IKIP
Malang) dan HD Zawawi Imron (Sastawaran Sumenep Madura).

Menurut Amien yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, persoalan
Madura adalah persoalan umat Islam Indonesia. Harus diakui, dalam
pengembangan Islam di Indonesia Madura telah banyak mengambil peran
dominan. Hingga kini masyarakat Madura yang duduk di dalam berbagai
strata sosial, tetap menampakkan kekentalannya dalam beragama. “Bahkan
sesorang penjahat pun bagi warga Madura harus bernuansa agama. Apalagi
warga Madura yang menduduki peran-peran sosial yang lebih baik dari
itu,” papar pengamat Politik Timur Tengah ini.

Saking pentingnya peranan Madura dalam wacana perkembangan umat Islam
di Indonesia, sehingga ada sebutan, “Kalau Serambi Mekah-nya Indonesia
adalah Aceh, maka serambi Madinah-nya adalah Madura.” Dalam banyak
hal, khususnya di Jatim, etnis Madura telah menjadi pewarna sosial
budaya.

Karena itu, sikap hati-hati ulama Madura dalam menyongsong datangnya
industrialisasi di kawasan tersebut patut mendapat pujian. Karena
sikap yang demikian, sikap yang akademis yang tidak serta-merta
menelan datangnya suatu budaya baru tanpa mempertimbangkan dampak
akhirnya.

Berkacamata pada kasus Aceh, kata Amien, masuknya industrialisasi di
sana benar-benar telah menjadi kenyataan, bahwa industri itu memang
harus diwaspadai. Di sentra industri kawasan Arun Lhokseumawe Aceh,
memperlihatkan fakta, kehadiran industri seperti menjadi enclove yang
lain dari daerah lainnya. “Saya melihat Arun itu seperti sebuah pulau
Amerika yang ditancapkan di situ, yang berbeda jauh dengan warga asal
yang masih tradisional,” kata Amien.

Pada akhirnya, fenomena Arun yang ekslusif itu akan menimbulkan gejala
disharmoni sosial. Dan secara lambat laun akan mengubah
tradisi-tradisi setempat yang Islami, ke tradisi-tradisi yang lebih
industrialisasi. Bisa jadi masyarakat Madura yang biasanya sesuai
salat maghrib mengaji Quran dan wiridan, setelah mengalami
industrialisasi melakukan aktivitas entertainment. “Karena itu,
andaikan industrialisasi masuk ke Madura, kita ingin mempertahankan
pranata keislaman yang sudah mapan di masyarakat. Sebab, harus diakui
Madura adalah Benteng Umat Islam yang terakhir,” tegas Amien.

Sementara itu, K.H. Tijani Jauhari mengatakan, M.A., kunci
keberhasilan penetrasi ajaran Islam ke dalam struktur sosial
masyarakat Madura, adalah besarnya hubungan penguasa dan ulama.
Kondisi ini karena antara keduanya kerap memang ada hubungan darah
atau besan yang diikat melalui pernikahan. Pola seperti ini, sama
dengan yang diterapkan dengan strategi Walisongo.

Sejarah Madura juga menunjukkan, banyak keluarga keturunan Adikoro
Bupati Pamekasan menjadi ulama pendiri pondok pesantren benar, seperti
di Banyuanyar Pamekasan, Prajan Sampang, hingga luar Madura seperti di
Sukoreja Situbondo, Blindungan Bondowoso, Ponpes Nurul-Jadid Paiton
Probolinggo, dan Sidodiri-Pasuruan.

“Orang Madura juga dikenal sangat patuh kepada ulama, bahkan kepatahan
orang Madura terhadap kyai melebihi daripada terhadap pengusaha.
Karena itu, jika ingin mensukseskan pembangunan Madura harus bekerja
sama dengan ulama,” papar K.H. Tijani. zis.

#MaduraExpose.com

#HarianExpose.com