Ilustrasi
http://www.policeline.co/

MADURAEXPOSE– pengantin baru mungkin masih bisa ingat hal-hal penting, tapi begitu menjadi pengantin lama alias pernikahan lebih dari setahun, mulailah pasutri lupa hal-hal yang menjadi kewajibannya.

Suami dan istri adalah dua insan yang dipersatukan takdir untuk menjalani ibadah bersama dalam sebuah mahligai rumah tangga. Keduanya bertumbuh bersama menjadi suami-istri yang saling menghormati dan menghargai. Suami dan istri membagi tugas dalam rumah tangga secara adil, penuh kesadaran, dan keridhoan dari dua belah pihak.

Tentu saja kesetaraan semacam ini ada dalam Islam. Namun sayang sekali karena pengaruh budaya patriarki, seringkali pelaksanaan kesetaraan antara suami dan istri menjadi bias. Istri menjadi sangat memperhatikan bagaimana cara menjadi istri yang baik namun melupakan bahwa suami pun sebaiknya melakukan hal yang sama. Tujuannya adalah satu, agar kehidupan berkeluarga menjadi sakinah mawaddah warahmah.

1.Menjaga Aurat
Seorang istri akan sangat memperhatikan bagaimana agar ia mampu menjalankan perintah Allah dalam menjaga auratnya. Suami juga ikut andil dalam mengingatkan istri akan persoalan aurat ini. Namun sayang, kadang istri lupa mengingatkan suami bahwa ia pun harus menjaga auratnya. Banyak suami yang masih suka memakai celana di atas lutut semantara aurat mereka jelas dari pusar sampai lutut.

2.Berhias

Saat seorang perempuan diperintahkan untuk tidak bertabarruuj di luar, berhias untuk suami, itu bukanlah suatu pengekangan. Itu adalah cara Islam memuliakan perempuan. Namun, hal itu sering disalahpahami bahkan dipersempit bahwa perempuan harus selalu berhias untuk suami. Bahkan, perempuan sendiri tak menyadari haknya menuntut agar suami berhias untuknya.

Apakah itu yang diajarkan Islam, bahwa istri harus senantiasa berhias untuk suami, betapapun repotnya ia? Bercanda soal bau badannya dan diminta untuk mandi agar tak bau dapur dan kotoran bayi? Sementara, selepas suami menanggalkan baju kantornya yang rapi dan wangi, berganti dengan kaos oblong serta celana kolor merupakan hal yang biasa saja? Tidak. Suami pun harus berhias untuk istri. Fitrah manusia itu adalah menyukai keindahan dan kebersihan.

3.Menjawab Khulu

Hak menceraikan istri memang berada di pihak suami, namun istri juga memiliki hak meminta cerai jika terjadi hal-hal yang melampaui batas, seperti tidak dinafkahi, KDRT, dll. Seorang istri tidak harus takut untuk menggunakan haknya saat kehidupan rumah tangga mendatangkan banyak mudharat.

4.Menikahi Seorang Istri

Seringkali kita mendengar suami yang marah saat mendapati rumah yang berantakan, makanan yang belum tersedia, dan segala macam persoalan rumah tangga. Bagaimana peran domestik ini bisa secara otomatis mengalami determinasi? Apakah Islam menyuruh perempuan menjadi pembantu rumah tangga laki-laki? Tidak. Seorang suami menikahi istri, bukan pembantu.

Rasulullah saja bersedih hati tatkala Ali yang miskin tidak bisa memberikan Fatimah pembantu yang bisa meringankan tugasnya dalam menjalankan peran-peran domestik. Artinya, saat perempuan mengerjakan tugas-tugas domestik, itu bukan sebuah kewajiban, tetapi sedekah terhadap suami yang berharap perolehan pahala dan ridho Allah.

5.Mendelegasikan “Tugas” Kesalihan

Suami senang melihat istrinya menjadi wanita yang shalihat, mengikuti kajian keagamaan yang mampu membuatnya berubah menjadi wanita yang taat suami. Istri merasa sangat perlu membaca buku mengenai “istri shalihat harus taat pada suami”, “1001 cara untuk menjadi istri shalihat”, “bersabar menjadi ibu yang shalihat untuk anak-anak”, dll.

Namun, apakah itu setara dengan waktu yang digunakan para suami untuk belajar menjadi suami shalih? Apakah Islam meletakkan tanggungjawab keshalihan, pendidikan anak, kesabaran, dll. dipundak perempuan? Tengoklah katalog nasional buku tentang agama, berapa persen perbandingan buku untuk “menjadi istri shalihat dalam pandangan Islam” dibandingkan dengan “menjadi suami shalih dalam pandangan islam”.

6.Menafkahi Keluarga

Seorang suami wajib menafkahi keluarga. Jika ia memiliki istri yang juga bekerja, tidak lantas menjadikan kewajiban menafkahi keluarga menjadi kewajiban bersama. Bahkan, di dalam Islam, uang istri adalah hak pribadinya. Namun apabila ada kesepakatan antara keduanya untuk mengatur keuangan rumah tangga berdasarkan dua sumber penghasilan, maka keridhoan seorang istri akan mendatangkan pahala yang amat besar. [Ummi]

Profil Penulis:
Santy Musa, S.Psi adalah seorang ibu rumah tangga dan penulis lepas yang menyukai dunia wanita dan hal-hal yang berhubungan dengan eksistensialisme. Telah menerbitkan beberapa buku dan menjadikan kegiatan menulis sebagai penjaga pikiran. Dapat ditemui di Twitter @qonitamusa dan Facebook Santy Martalia Musa. Aktif di Komunitas Ummi Menulis.


loading...